Classic Header

{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Sejumlah warga di Manado Sulut alami demam dan mual, usai disuntik vaksin Covid-19 jenis AstraZeneca

Ilustrasi: Vaksin AstraZeneca. (Foto: REUTERS)
_____________________________________________________________
NusantaraPostOnline.com, MANADO - Sejumlah orang di Manado Sulawesi Utara merasakan dampak ikutan seperti demam, menggigil, sakit kepala, badan terasa sakit dan lemas, setelah menerima penyuntikan vaksinasi Covid-19 AstraZeneca

Akibatnya penyuntikan vaksin Covid-19 jenis AstraZeneca (AZ) itu dihentikan sementara oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut).

Gubernur Sulut Olly Dondokambey menjelaskan, penyampaian pemberhentian sementara itu bagian dari kehati-hatian kepala Dinas  (Kadis) Kesehatan.

“Inilah kehati-hatian dari Kadis (kesehatan, red), jadi maksudnya sementara menunda. Tapi rupanya ketikannya menggunakan memberhentikan. Namun wajar, kita harus hati-hati. Jangan sampai sudah ada masalah baru kita jadi ribut. Lebih baik kita hati-hati agar masyarakat benar-benar terlindungi,” kata Olly, Senin (29/3/2021).

Sebelumnya, Kadis Kesehatan Provinsi Sulut, dr Debie KR Kalalo, MScPH., mengyngkapkan penghentian senentara penyuntikan vaksin Covid-19 jenis AstraZeneca sambil menunggu penjelasan dan pernyataan resmi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan WHO Perwakilan Indonesia .

"Dihentikan sementara sambil menunggu penjelasan dan pernyataan resmi dari Kementerian Kesehatan dan WHO Perwakilan Indonesia terkait surat resmi yang kami kirimkan 26 Maret 2021,"  kata dr Debbie, Sabtu (27/3/2021).

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Sulut, dr Steven Dandel MPH mengklarifikasi sejumlah poin terkait dihentikan sementara vaksinasi menggunakan jenis AstraZeneca itu.

Dokter Steven menyebutkan, penghentian sementara dilakukan sebagai langkah kehati-hatian (precaution) mengingat adanya angka Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) sebesar lima sampai sepuluh persen dari total yang divaksin AstraZeneca.

KIPI tersebut menurut dr Steven hadir dalam bentuk gejala demam, menggigil, nyeri badan, nyeri tulang, mual dan muntah.

Dokter Steaven menjelaskan dalam 'Emergency Use Authorization' (EUA) vaksin AstraZeneca sebenarnya telah disebutkan bahwa KIPI ini adalah efek samping (adverse effect) yang sifatnya sangat sering terjadi. Artinya, satu di antara 10 suntikan dan sering terjadi.

"Kami perlu mempersiapkan komunikasi risiko kepada masyarakat untuk dapat menerima fakta ini, supaya tidak terjadi kepanikan di masyarakat," ucapnya.

Menurut dia, komunikasi risiko yang diambil, langkah pertamanya didahului dengan investigasi oleh Komda PP-KIPI bersama Dinkes Provinsi Sulut, Kemenkes dan WHO, sebelum dilakukan media release.

"Langkah ini juga perlu dilakukan untuk menyesuaikan pola dan pendekatan vaksinasi terutama yang targetnya adalah unit usaha atau institusi. Supaya tidak dilakukan dalam waktu yang bersamaan terhadap karyawannya. Tetapi bertahap, agar supaya unit usaha tidak perlu ditutup kalau ada banyak karyawan yang terdampak KIPI," ujarnya.

Baca juga:
Mulai 1 April 2021 Syarat Naik Pesawat Bisa Pakai Hasil Test GeNose C19


Seperti diketahui, vaksin AstraZeneca tiba di Indonesia pada 8 Maret 2021 lalu sebanyak 1.113.600 dosis vaksin jadi.

Provinsi Sulut sendiri merupakan satu dari delapan provinsi yang mendapatkan vaksin Covid-19 AstraZeneca. Tujuh provinsi lainnya yakni DKI Jakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Kepulauan Riau. dan Sulawesi Utara.

Provinsi Sulut mendapatkan sebanyak 50.000 dosis vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Penggunaan vaksin Covid-19 jenis AstraZaneca tersebut mulai digunakan dalam program vaksinasi nasional pada 22 Maret 2021 yang lalu. Sedangkan di Provinsi Sulut penyuntikan dosis pertama vaksin AstraZaneca dimulai pada  24 Maret 2021 yang lalu kepada para petugas pelayanan publik. (jpnn/NPO)

Editor: Togab BB