Classic Header

{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Peringati Hari Lebah Sedunia 2021, PEI Gelar Workshop virtual bertema “Lebah, Ketahanan Pangan, dan Kesehatan: Peluang dan Tantangan”

Lebah. (Foto: AFP)
___________________________
NusantaraPostOnline.com, JAKARTA – Dalam rangka memperingati Hari Lebah Sedunia (20 Mei) yang akan datang, Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI), bekerja sama dengan Pusat Kajian Sains Keberlanjutan dan Transdisiplin/Center for Transdisciplinary and Sustainability Science (CTSS) menyelenggarakan lokakarya khusus berupa workshop, dengan mengangkat tema Lebah, Ketahanan Pangan, dan Kesehatan: Peluang dan Tantangan”.

Kegiatan workshop tersebut diadakan secara virtual pada Selasa (6/4/2021), pukul 8.30 sampai dengan pukul 12.00 WIB.


Dalam riset
 Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) 2020, fenomena penurunan populasi lebah di Indonesia dialami oleh 57 persen responden. Para responden sendiri berasal dari 272 orang peternak lebah dari Pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa dan Maluku.

Seminar internasional yang masuk dalam rangkaian perayaan Hari Lebah Sedunia 2021 ini menyimpulkan, bahwa apa yang terjadi di dunia ternyata juga terjadi di Indonesia sehingga dibutuhkan langkah-langkah antisipasi dari berbagai pihak  mengingat pentingnya kedudukan lebah dalam ekosistem.

Baru-baru ini di Eropa dan Amerika dikejutkan oleh adanya fenomena penurunan populasi lebah secara besar-besaran, baik lebah yang diternakkan maupun lebah alami di alam.

Fenomena ini yang melatari PEI melakukan riset serupa di Indonesia pada 2020 yang melibatkan 272 responden (peternak) di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa, dan Maluku.

Sebagian besar responden menyatakan bahwa dugaan penurunan ini karena dampak dari perubahan iklim, ketersediaan pakan dan pestisida.

Baca juga:

Kepala Pusat Kajian Sains Berkelanjutan dan Transdisiplin (CTSS) Damayanti Buchori mengatakan, bahwa saat ini fenomena penurunan populasi lebah secara global merupakan fakta.

Di Indonesia memang belum ada penelitian mendalam mengenai fenomena ini, apakah terjadi atau tidak sehingga CTSS merasa perlu untuk melakukan studi lanjutan agar Indonesia bisa melakukan tindakan penyelamatan.

Guru Besar Departemen Proteksi Tanaman IPB ini mengatakan studi ini nantinya menjadi studi pertama yang dilakukan dalam usaha mencari data tersebut.

“Data awal ini perlu ditindaklanjuti dengan riset yang lebih komprehensif mengenai kondisi lebah di Indonesia,” kata dia.

Pada riset awal PEI itu diketahui juga bahwa jumlah peternak lebah terus meningkat, dimana sebagian besar dari mereka baru memelihara lebah dalam kurun 3-5 tahun terakhir. Hampir setengah dari total peternak memperoleh koloni lebah pertama mereka dari alam liar.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Antarjo Dikin mengatakan, bahwa riset (riset PEI, red) ini cukup menarik karena mengidentifikasi terdapat tiga faktor utama penyebab kematian lebah di nusantara, yaitu iklim (31%), sumber makanan (23%), dan pestisida (21%).

“Ternyata berbagai masalah lain juga dapat memengaruhi kuantitas dan kualitas hasil madu seperti cuaca, sumber pakan, jenis lebah, dan perlakuan saat panen dan pasca panen,” ucap Antarjo.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno yang turut menjadi narasumber dalam lokakarya tersebut mengatakan, penelitian terbaru yang dilakukan PEI ini merupakan sumber daya yang berharga untuk menggali pengetahuan dan informasi mengenai lebah.

“Workshop hari ini merupakan salah satu usaha dan upaya yang sangat baik dalam proses kolaborasi, dalam rangka meningkatkan kesadaran akan keanekaragaman dan kondisi lebah di Indonesia,” kata Wiratno.

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) Dadang mengatakan, lokakarya ini menjadi tonggak dimulainya forum Indonesian Pollinator Initiative (IPI) secara resmi, dan menjadi kesempatan besar untuk menyampaikan hasil survei PEI kepada para akademisi, pembuat kebijakan, praktisi, pejabat pemerintah, petani, dan masyarakat sipil”

“Dengan mempertemukan para peneliti, pakar dan penggiat lebah di Indonesia, diharapkan dapat memperkuat upaya untuk mempertahankan keberlangsungan hidup dan keberlanjutan produktivitas lebah di Indonesia,” kata dia.

Untuk diketahui, riset atau penelitian yang didukung oleh PT. Syngenta Indonesia ini bertujuan mengatasi permasalahan penurunan populasi Polinator, dan berupaya untuk mempromosikan praktik-praktik pertanian yang lebih berkelanjutan yang dapat meningkatkan hasil panen sekaligus dapat memulihkan keseimbangan ekosistem.

Sejalan dengan tujuan tersebut, penelitian ini diharapkan dapat melengkapi informasi dalam pelaksanaan program Pollinator Operation. (Bams/NPO)

Editor: Togab BB