Classic Header

{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Kasus COVID-19 Meningkat Pesat, IDI Usul ke Pemerintah Ganti Istilah PPKM Mikro Dengan Lockdown

 

  
Ikatan Dokter Indonesia menyarankan pemerintah mengganti kebijakan PPKM Mikro dengan lockdown mengingat kasus positif virus corona yang meningkat pesat beberapa hari terakhir. (CNN Indonesia/ Adi Maulana)
______________________________________________________________
NusantaraPostOnline.com, JAKARTA -- Ketua Satgas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban meminta pemerintah mengganti istilah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro menjadi lockdown alias kekarantinaan wilayah.

Zubairi menilai sudah saatnya ada ketegasan dari pemerintah pusat dan daerah untuk menyesuaikan regulasi mengingat lonjakan kasus positif virus corona sudah membuat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) meningkat pesat.

Seperti di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran, tingkat keterisian tempat tidur hampir penuh, jumlah pasien yang dirawat 80,68 persen pada tower 4, 5, 6, dan 7.

"Didasari melonjaknya kasus COVID-19 dan rawat inap, saya merasa Indonesia butuh istilah baru sebagai ganti PPKM Mikro," cuit Zubairi melalui akun Twitter miliknya @ProfesorZubairi, Selasa (15/6/2021), seperti dilansir CNNIndonesia.com yang telah diberikan izin untuk mengutip pernyataan tersebut.

"Saya rekomendasikan kata lockdown saja agar monitoringnya lebih tegas dan lebih serius, meski isi konten kebijakannya tidak jauh beda dengan PPKM," imbuhnya.

Zubairi menilai saat ini kondisi pandemi virus corona di tanah air mirip dengan peningkatan kasus di 2020. Bahkan bisa lebih parah.

Menurutnya, pandemi COVID-19 bisa makin memburuk karena ada faktor keberadaan mutasi virus SARS-CoV-2 yang tergolong 'Variant of Concern (VoC)'.

Salah satu mutasi COVID-19 yang dimaksud yakni varian B1617 dari India atau Delta., Menurut Zubairi, varian tersebut tergolong berbahaya.

Dia berkaca dari Australia yang pintu perbatasannya dijaga ketat, namun tak bisa mengelak dari penyebaran B1617 tersebut.

Zubairi mengungkapkan, di Indonesia varian tersebut telah mengakibatkan dampak yang tidak baik hingga saat ini.

"Varian Delta yang sangat menular dari SARS-CoV-2 telah bermutasi lebih lanjut untuk membentuk varian Delta Plus atau AY.1. Diketahui, Delta Plus ini tahan terhadap terapi antibodi monoklonal yang baru saja disahkan di India. Semoga kita terhindar dan bisa memitigasinya," kata dia.

Belum lagi varian mutasi corona yang lain. Sejauh ini, Kemenkes sudah mendeteksi 145 kasus varian mutasi corona. Terdiri dari 36 kasus B117 Alfa, 5 kasus B1351 Beta, dan 104 kasus B1617.2 Delta.

Lebih lanjut, Zubairi menyoroti kenaikan kasus dalam beberapa pekan terakhir di Ibu kota. Dia mengajak masyarakat untuk waspada dan mematuhi Protokol Kesehatan (Prokes) dan 3M secara baik dan benar. 3M yang dimaksud adalah memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

"Saya harus katakan. Kita ini berada dalam cengkeraman tahap awal gelombang Varian Delta. Bahkan, Mas Anies Baswedan bilang, situasi Jakarta sedang genting," kata Zubairi.

Berita Terkait:

"Memang benar. Apalagi masih ada jutaan manusia Indonesia yang belum terlindungi vaksin. Ini bisa jadi bencana bagi mereka," tandasnya.

Untuk diketahui, secara nasional kasus penularan COVID-19 mencatatkan penambahan sebesar 8.189 orang sehingga secara akumulatif jumlahnya mencapai 1.919.547 kasus, menurut data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 pada Senin (14/6/2021) pukul 12.00 WIB.

Penambahan kasus COVID-19 paling banyak terjadi di DKI Jakarta yakni sebanyak 2.722 kasus, diikuti Jawa Barat (1.532 kasus) dan Jawa Tengah (1.400 kasus. []