Classic Header

{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Miris! Empat Empang Ikan Lele Siap Panen Milik Pria Tua Ludes Terdampak Pembangunan Tower Sutet di Kembangan Jakbar

 

 


________________________________________________________________
NusantaraPostOnline.com, JAKARTA -- Pembangunan tower saluran udara tegangan ekstra tinggi (Sutet) 500 KV yang terletak di Gang Family RT 007 RW 001 Kelurahan Kembangan Selatan, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, mendapat perhatian warga setempat.  

Pasalnya, pihak pelaksana kontraktor yang telah merampungkan pengerjaan tower Sutet tersebut sekitar 5 tahun yang lalu disinyalir belum menormalisasi saluran air yang berada di bagian bawah Tower Sutet tersebut, dan dampaknya beberapa peternak ikan dan petani yang bercocok tanam di sekitar tower Sutet tersebut merasa dirugikan.

Belum lama ini, seorang warga berinisial MS yang tinggal di sekitar tower Sutet tersebut menyampaikan keluhannya kepada awak media di lokasi bekas lahan empang ikan lele miliknya.

"Akibat pembangunan tower Sutet bertegangan tinggi itu empat lahan empang tempat peliharaan ikan saya terserobot, selain kehilangan ikan lele yang siap panen, tanaman pisang, pepaya dan singkong yang saya tanam juga ludes semuanya," ujar kakek berusia 72 tahun itu.


Sang Kakek tua itu mengaku, hingga kini dirinya belum menerima ganti rugi dari pihak kontraktor yang membangun tower Sutet tersebut.

"Jika dirinci 1 empang berisi 10.000 ribu ekor ikan lele siap panen, jadi kalau dikalikan 4 empang jumlahnya sekitar 40 ribu ekor, sehingga total kerugian saya sebesar empat puluhan juta," papar sang kakek.

Kakek tua itu berharap pihak kontraktor berkenan mengganti kerugian yang dideritanya itu.

"Saya juga sempat menyampaikan kepada pihak kontraktor yang saat itu ada di lokasi pembangunan tower untuk meminta pertanggung jawaban atas kerugian saya, tapi pihak kontraktor lagi-lagi menanggapi dengan memberi jawaban yang sama:'baik pak, nanti kami ajuin ke pimpinan'," kata sang Kakek menirukan jawaban pihak kontraktor.

Selain sang Kakek, diketahui ada sejumlah petani lainnya yang bercocok tanam di lokasi tower Sutet tersebut. Paa petani itu mengaku turut mengalami kerugian, karena aliran saluran airyang berada di bagian bawah tower belum dikembalikan ke kondisi semula, yakni dengan lebar 4 meter dan kedalaman air 2,8 meter.


Akibatnya, para petani pecocok tanam itu hanya bisa berpasrah sembari mengelus dada.

"Habis mau bagaimana lagi ya, namanya proyek punya BUMN, kami juga tidak akan bisa apa-apa," ucap salah seorang petani yang tidak bersedia disebutkan namanya itu penuh pasrah.

"Entah kenapa sampai saat ini kerugian kami belum diganti, dan saluran air gebyuran juga belum dikembalikan ke jalur semula?" pungkas seorang petani lainnya. (MBR)

Editor: Togab BB