Classic Header

{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Panas Gatot Nurmantyo Vs Letjen Dudung, Prabowo Diminta Tak Perlu Turun Tangan


Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman.(Foto/dok: Ricardo/JPNN.com)
________________________________________________________________
NusantaraPostOnline.com, JAKARTA --Pernyataan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo yang belum lama ini menuding lembaga TNI sudah disusupi oleh PKI menyusul hilangnya tiga patung pada diorama peristiwa penumpasan G30S/PKI di Museum Darma Bhakti Kostrad telah mengundang tanggapan berupa penjelasan dari Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen TNI Dudung Abdurachman.

Letjen Dudung mengatakan, sepatutnya Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo melakukan klarifikasi sehingga tidak menuding Angkatan Darat telah disusupi PKI.

Bagi TNI Angkatan Darat (AD), sambung Letjen Dudung, tudingan Gatot Nurmantyo yang menyebut tidak adanya patung tiga tokoh di Museum Darma Bhakti Kostrad sebagai indikasi TNI AD disusupi PKI adalah tudingan keji.

“Seharusnya Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo selaku senior kami di TNI, terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan bisa menanyakan langsung kepada kami selaku Panglima Kostrad,” ujar Letjen Dudung Abdurachman, Selasa (28/9/2021), melansir dari KompasTV.

Lebih lanjut Letjen Dudung mengungkap, patung sejumlah tokoh nasional yang disebut Gatot Nurmantyo hilang telah diambil oleh Letjen TNI (Purn) AY Nasution, selaku penggagas.

“Patung tersebut, diambil oleh penggagasnya, Letjen TNI (Purn) AY Nasution yang meminta izin kepada saya selaku Panglima Kostrad saat ini,” ungkap Letjen Dudung.

“Saya hargai alasan pribadi Letjen TNI (Purn) AY Nasution, yang merasa berdosa membuat patung-patung tersebut menurut keyakinan agamanya. Jadi, saya tidak bisa menolak permintaan yang bersangkutan.” imbuhnya.

Letjen Dudung dalam keterangannya juga menuturkan, patung tiga tokoh di Museum Darma Bhakti Kostrad, yakni Jenderal TNI AH Nasution (Menko KSAB), Mayjen TNI Soeharto (Pangkostrad), dan Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo (Komandan RPKAD) memang sebelumnya ada di dalam museum tersebut.

Patung tersebut, kata Letjen Dudung, dibuat pada masa Panglima Kostrad Letjen TNI (Purn) AY Nasution (2011-2012).

“Jika penarikan tiga patung itu kemudian disimpulkan bahwa kami melupakan peristiwa sejarah pemberontakan G30S/PKI tahun 1965, itu sama sekali tidak benar,” jelas Letjen Dudung.

Baca juga:
Pelaku UKM Pasar Lokbin Rawa Buaya Cengkareng Akan Bentuk Paguyuban, Kasudis PPKUKM Jakbar: Semua Pedagang Wajib Memelihara Ketertiban dan Kebersihan Pasar

Di samping itu, lanjut Letjen Dudung, faktanya foto-foto peristiwa serta barang-barang milik Panglima Kostrad Mayjen TNi Soeharto saat peristiwa 1965 itu, masih tersimpan dengan baik di museum tersebut.

“Hal ini sebagai pembelajaran agar bangsa ini tidak melupakan peristiwa pemberontakan PKI dan terbunuhnya pimpinan TNI AD serta Kapten Piere Tendean,” terang Letjen Dudung.

“Demikian penjelasan kami agar bisa dipahami dan tidak menimbulkan prasangka buruk terhadap kami sebagai pribadi, intitusi Kostrad, maupun insitusi TNI AD.” pungkasnya.

Mencermati polemik tersebut, pengamat komunikasi politik Hendri Satrio mengatakan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto perlu angkat bicara menanggapi masalah Gatot Nurmantyo dan Letjen Dudung Abdurachman soal patung tersebut.

Melansir JPNN.com, Hendri menilai pandangan Menhan Prabowo Subianto soal hilangnya diorama itu penting untuk didengar.

"Yang hilang itu, kan, bukan menceritakan sejarah Kostrad, tetapi sejarah Indonesia. Jadi, penting Menhan bicara," ujar pendiri lembaga Kedai KOPI itu, Selasa (28/9/2021).

Pengajar di Universitas Paramadina itu juga mengatakan pendapat Prabowo sebagai mantan prajurit dan perwira di TNI juga penting untuk didengar soal hilangnya patung tersebut.

Terlebih lagi dia menilai penjelasan Pangkostrad Letjen Dudung mengenai hilangnya diorama itu belum menjawab tudingan Gatot Nurmantyo.

"Penjelasan Kostrad bahwa alasan hilangnya diorama karena sang penggagas diorama ingin diorama itu dibongkar, alasan yang aneh, ya. Ini harus diperjelas," tandas Hendri.

Baca juga:

Berbeda dengn Hendri, politikus PDI Perjuangan Kapitra Ampera mengatakan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto tidak perlu turun tangan dalam polemik hilangnya patung pada diorama peristiwa G30S/PKI, antara Gatot Nurmantyo dan Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman.

Kapitra menilai Prabowo tak perlu turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

"Untuk apa? Enggak perlu ditarik-tarik ke Pak Prabowo, ya. Ini masalah sektoral yang sangat sepele," kata Kapitra, seperti dikutip JPNN.com, Selasa (28/9/2021).

Lebih lanjut Kapitra berharap agar polemik tersebut tidak perlu juga dibesar-besarkan.

"Jangan masalah kecil dibesar-besarkan. Masalah besar juga jangan dikecil-kecilkan," ujarnya.

"Jadi, praduga-praduga itu tidak usah diumbar di publik agar tidak menimbulkan polemik di antara anak bangsa," tegas Kapitra.*[Red]

Editor: Togab BB