Classic Header

{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Jejak Kontroversi Oknum Polisi: Pukuli Warga, Tiduri Anak Tersangka




Ilustrasi oknum polisi/Tribunnews

___________________________________________________________________________
NusantaraPostOnline.com, JAKARTA -- Sederet tindakan oknum polisi menuai kontroversi di tengah masyarakat sepanjang September hingga Oktober 2021. Beberapa di antaranya terekam kamera kemudian viral di media sosial dan mengundang sorotan publik.

Melansir CNNIndonesia, berikut adalah daftar langkah kontroversial yang dilakukan oknum polisi tersebut dan beberapa perkembangan informasi terbarunya.

Menghentikan Penyelidikan Dugaan Pencabulan

Langkah polisi menutup penyelidikan kasus dugaan pencabulan yang dilakukan seorang aparatur sipil negara (ASN) terhadap tiga anaknya di Luwu Timur, Sulawesi Selatan pada 2019 menjadi kontroversi pertama yang muncul ke publik.

Pasalnya, mantan istri terduga pelaku buka suara. Ia bersama kuasa hukumnya dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar menilai penutupan kasus tersebut janggal. Kasus itu pun diangkat kembali ke publik sejak awal Oktober 2021.

Polisi mengklaim kasus itu ditutup lantaran penyidik tak menemukan cukup bukti terkait dugaan pencabulan yang dilakukan. Penyelidikan pun diklaim sesuai prosedur.

Terhadap kasus yang telah menjadi viral dan menarik perhatian publik itu Bareskrim Polri mengirimkan tim asistensi ke Luwu Timur untuk mengecek langsung prosedur penyelidikan tersebut.

Hingga akhirnya pada 12 Oktober 2021, polisi mulai membuka penyelidikan baru terkait kasus tersebut.

"Penyidik telah membuat laporan polisi model A tertanggal 12 Oktober 2021, perihal adanya dugaan pencabulan anak di bawah umur. Itu ditulis pelaku dalam proses penyelidikan," kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Ahmad Ramadhan, seperti dikutip CNNIndonesia, pada Kamis (14/10/2021) pekan lalu.

Penyelidikan tak berfokus pada tempus delicti atau waktu kejadian sebelumnya. Namun kini pihak polisi mendalami rentang waktu antara 25 hingga 31 Oktober 2019.

Sebelumnya terdapat dua versi hasil visum berbeda yang dimiliki oleh kepolisian dan kemudian dibandingkan dengan hasil tes kesehatan dari pihak keluarga.

Kasus tersebut hingga saat ini masih bergulir. Belum ada kesimpulan yang disampaikan oleh pihak kepolisian terkait dengan dugaan pencabulan itu.

'Memukul 'Smackdown' Seorang  Mahasiswa

Tak lama berselang, giliran tindakan represif oleh seorang oknum polisi saat membubarkan aksi unjuk rasa oleh mahasiswa di depan kantor Bupati Tangerang pada Rabu (13/10/2021).

Oknum polisi itu, Brigadir NP, terekam kamera membanting mahasiswa UIN SMH Banten, Fariz, hingga terkapar.

Mahasiswa tersebut sempat kejang-kejang lantaran dibanting ala 'smackdown' oleh oknum polisi yang posturnya lebih besar.

Kasus itu berentet panjang, hingga pada Jumat (15/10/2021) mahasiswa tersebut melakukan pemeriksaan Magnetic Resosnance Arthrography (MRA) di RS Ciputra Jakarta.

Peristiwa itu memicu kritik publik. Meskipun telah meminta maaf kepada Fariz., Brgadir NP saat ini diproses hukum oleh Bidpropam Polda Banten. Ia ditahan untuk tujuh hari pertama selama proses pemeriksaan. Sementara ini, Brigadir NP dianggap tak melakukan pengamanan demonstrasi sesuai prosedur di Korps Bhayangkara.

"Kita berharap pemberkasan terhadap Brigadir NP dapat segera dituntaskan oleh penyidik Ditpropam Polda Banten. Dari hasil pemeriksaan terhadap Brigadir NP, maka Ditpropam Polda Banten menggunakan persangkaan berlapis sesuai aturan internal kepolisian," kata Kabid Humas Polda Banten, AKBP Shinto Silitonga, di Mapolda Banten, Jumat (15/10/2021), masih mengutip CNN Indonesia.

Korban Aniaya Jadi Tersangka

Kontroversi berikutnya berkaitan dengan proses penyidikan kasus dugaan penganiayaan seorang pedagang di Pasar Gambir, Percut Sei Tuan, Medan, Sumatera Utara, pada 5 September 2021 lalu. Pedagang itu bernama Liti Wari Iman Gea (37).

Liti yang dikabarkan mengalami luka lebam di sekujur tubuh usai dianiaya oleh sekelompok preman justru ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polsek Percut Set Tuan.

Polemik tersebut berlanjut dan viral di media sosial usai Liti mengunggah foto surat panggilan pemeriksaan yang dilayangkan kepada dirinya.

Terkait kasus ini Kapolda Sumut, Irjen Pol Panca Simanjuntak telah memerintahkan Dirreskrimum Polda Sumut dan Kapolrestabes Medan untuk membentuk tim dan menarik penanganan perkara penganiayaan terhadap Liti.

Sejumlah pejabat di Polsek Percut Sei Tuan dicopot buntut dari penetapan tersangka Liti.

Informasi terbaru, preman yang menganiaya Liti telah menyerahkan diri ke Polda Sumatera utara usai buron sejak beberapa hari yang lalu. Selanjutnya mereka dibawa ke Polrestabes Medan untuk menjalani pemeriksaan.

"Saat ini Polrestabes Medan masih melakukan pemeriksaan terhadap kedua preman yang menjadi viral pemukulan pedagang di Pasar Gambir," kata Kasat Reskrim Polrestabes Medan Kompol Rafles Marpaung, mengutip Antara.

Memukul Seorang Warga di Deli Serdang

Masih di waktu yang sama, kasus oknum polisi yang memukuli seorang pria hingga terkapar di jalanan kawasan Deli Serdang, Sumatera Utara viral di media sosial.

Dalam video yang beredar, seorang pria yang memakai jaket hitam dipukuli. Wajah pria itu berulang kali ditampar. Pria tersebut tak kuasa melawan dan langsung terkapar di jalan.

Di lokasi kejadian, seorang wanita dan suaminya mendatangi pria tersebut. Wanita itu mengaku bahwa pria yang dihajar oknum polisi tersebut adalah anaknya. Wanita itu mencoba melindungi agar anaknya tak kembali dipukuli.

Dari video lainnya, pemukulan tersebut berawal lantaran pria itu menolak ditilang. Dia membentak petugas Satlantas. Bahkan pria itu juga menantang petugas serta melontarkan kata-kata tak senonoh.

Namun demikian, kasus itu tetap menuai reaksi dan kritik terhadap Korps Bhayangkara.

Atas peristiwa itu, Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol RZ Panca Putra meminta maaf atas terjadinya insiden pemukulan yang dilakukan oleh oknum polisi dari Satlantas Polresta Deli Serdang tersebut.

Oknum Kapolsek Tiduri Anak Tersangka

Kasus lainnya, anak seorang tersangka di Parigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), yang mengaku telah ditiduri oleh Kapolsek Parigi, Iptu IDGN dengan iming-iming ayahnya akan dibebaskan.

Perempuan berinisial S yang berusia 20 tahun itu mengaku dirayu berkali-kali oleh Iptu IDGN agar sang ayah yang ditahan di Polsek Parigi bisa dibebaskan.

"Nanti dibantu sama Bapak kalau misalnya saya mau temani dia tidur," kata S kepada wartawan, Senin (18/10/2021), mengutip CNNIndonesia.

Perempuan berinisial S itu awalnya tidak termakan oleh rayuan Iptu IDGN. S mengaku hampir 3 pekan Iptu IDGN terus membujuknya dengan janji ayahnya selaku tersangka akan dibebaskan.

Hingga akhirnya, S yang prihatin dengan kondisi ayahnya yang ditahan termakan rayuan Iptu IDGN. S setuju untuk bertemu dengan Iptu IDGN di salah satu hotel.

"Terus akhirnya saya mau, dan dia kasih saya uang, dan dia bilang ini untuk Mama kamu, bukan untuk membayar kamu, ini untuk membantu Mama karena dia kasihan Mama," ujar S.

Belum sampai menepati janjinya, Iptu IDGN di kemudian hari malah kembali mengajak S untuk tidur.

"Dia ajak lagi kedua kalinya, dan ada chat-nya. Harapan saya memang dia bisa mengeluarkan Papaku," ungkap S.*
__________________________________
Artikel ini telah tayang di CNNIndonesia.com dengan judul "Jejak Kontroversi Polisi: Pukuli Warga, Tiduri Anak Tersangka"