Classic Header

{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Lindungi Pedagang Pasar, Pengamat Hukum: Kalau Preman Pasar Tidak Bisa Diberantas 'Petrus' Hidupkan Lagi



Ilustrasi premanisme


___________________________________________________________________________________
NusantaraPostOnline.com, JAKARTA -- Apa kabar operasi pemberantasan premanisme pelaku pungutan liar (pungli), setelah empat bulan yang lalu Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menginstruksikan seluruh jajarannya di tanah air untuk melaksanakan operasi pemberantasan pungutan liar (pungli) dan premanisme.

Instruksi Kapolri tersebut masih segar dalam ingatan, karena saat itu (10/6/2021) Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi perhatian, melalui sambungan telepon Kepala Negara meminta Kapolri Listyo untuk menindak tegas preman yang sering melakukan pemalakan terhadap sopir kontainer.

"Pak Kapolri, saya ini saya di Tanjung Priok, banyak keluhan dari para 'driver' kontainer yang berkaitan dengan pungutan liar di Fortune, di NPCT (New Priok Container Terminal) 1, kemudian di Depo Dwipa. Pertama itu," kata Jokowi saat menelpon langsung Kapolri, Kamis (10/6/2021), seperti dikutip InfoIndonesia.id.

Jenderal bintang empat itu menyatakan siap, dan langsung menindaklanjuti perintah Presiden Jokowi.

Sehari setelahnya, Jumat (11/6/2021), Kapolri Listyo memberikan instruksi dan arahan kepada jajaran kepolisian di seluruh Indonesia untuk melakukan operasi penindakan premanisme.

"Seluruh Polda dan Polres jajaran harus menindak tegas aksi premanisme yang meresahkan. Hal itu demi menjamin keselamatan dan memberi rasa tenang kepada masyarakat," tutur Kapolri Listyo dalam keterangan tertulisnya, Jumat (11/6/2021) silam.

Namun, aksi preman pelaku pungli kembali terulang. Seperti belum lama ini terjadi di Pasar Pringgan, Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Ibarat rumput liar, meski sudah dicabut namun tak lama  kemudian tumbuh lagi, demikian juga aksi premanisme pelaku pungli di tanah air. Mungkin karena sudah mengakar sehingga sulit menghilangkannya.

Melansir KOMPAS.com  Pengamat hukum pidana Asep Iwan Iriawan menyebutkan bahwa negara harus hadir dalam memberantas preman, terutama yang memalak para pedagang di pasar-pasar.

Menurut Asep, para preman itu sudah sangat meresahkan. Dia memberi contoh, para preman bisa beraksi meski lokasi tempat aksinya tersebut dilakukan dekat dengan kantor polisi dan kantor kelurahan.

Mantan hakim yang pernah bertugas di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat itu berpandangan, jika negara dan aparat penegak hukum tidak bisa memberantas, maka oerlu dihidupkan kembali 'Petrus' seperti yang pernah dijalankan pada era orde baru.

"Hidupkan saja 'Petrus' seperti dulu, walaupun ini kan melanggar hak asasi manusia (HAM)," katanya dalam acara Sapa Pagi di KOMPAS.TV, Senin (1/11/2021).

Seperti diketahui, Petrus alias penembak misterius pernah dijalankan di era orde baru yang sasarannya para preman yang meresahkan masyarakat.

Keberadaan pedagang pasar, kata Asep, merupakan bukti bahwa di tengah perekonomian yang terpuruk akibat Covid-19, mereka bisa bertahan.

Karena itu, kata Asep, para pedagang harus dilindungi dari ulah para preman, dan semua pihak harus turun ikut memberantas.

"Termasuk Satpol PP dan keamanan pasar. Jangan hanya menjaga pasar saja. Satpol PP kalau tidak berani, jangan jadi Satpol PP," imbuhnya.

Baca juga:
Tiga Bangunan Gedung Mewah Diduga Langgar Izin, Fungsi Pengawasan Citata Kecamatan Gropet Jakbar Dipertanyakan Warga

Asep juga menyentil keberadaan Saber Pungli yang harusnya bisa turun hingga ke pasar-pasar. Begitu juga dengan Menko Polhukam MD harus ikut membantu membereskan persoalan premanisme ini.

"Juga Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Dia kan bekas orang LSM. Jangan hanya bikin konsep saja soal UMKM. Lindungi para pedagang pasar," tegasnya.

Sebelumnya, pada 9 Agustus 2021 lalu, seorang pedagang sayur berinisial BA menjadi korban penusukan preman di Pasar Pringgan, Medan, Sumut. Ironisnya, sekitar dua bulan kemudian, yakni pada 30 September 2021, BA menerima surat penetapan tersangka dari Polsek Medan Baru atas laporan preman berinisial BS, dengan tuduhan menganiaya.

Padahal menurut pengakuan BA, dirinya dianiaya oleh si preman dengan menggunakan senjata tajam lantaran dia menolak dimintai uang keamanan oleh BS,

Atas tindakan penganiayaan itu, BA melaporkan BS ke kantor polisi setempat. Namun, preman tersebut juga melaporkan BA lantaran dipukul menggunakan kunci dongkrak. BA mengatakan, pemukulan itu ia lakukan untuk membela diri.

Meskipun kasus penganiayaan itu diketahui berujung damai, namun diharapkan peristiwa serupa tidak terulang kembali, sehingga tidak ada lagi pedagang pasar yang menjadi korban pungli dan premanisme.*[Red]

Editor: Togab BB